+62-812-1126-1842
asgarnusantara39@gmail.com

Cagar Budaya Garut Baru Tiga? Ketum Asgar Nusantara : Masyarakat Harusnya Diberi Pemahaman Tentang Cagar Budaya

IMG_20230718_142659

ASGARNEWS, – Ketua Umum Asgar Nusantara Ngahiji Hendi Ahmad Hidayat SH, mengatakan bahwa masyarakat Kabupaten Garut terkhusus generasi muda harusnya diberi pemahaman dan peduli terhadap budaya, apalagi Garut dikenal dengan kekayaan akan cagar budaya.

“Betul, saya pribadi merasa geram ketika mendengar cagar budaya di kabupaten Garut baru tercatat hanya ada tiga buah,” kata Hendi saat ditemui di kantor Sekretariat DPP Asgar Nusantara Ngahiji Jl. Nasional Garut – Bandung, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Selasa (18/7/2023).

Menurut Hendi, Kabupaten Garut dikenal dengan daerah yang kaya akan budaya termasuk situs dan bangunan bersejarah yang bisa menjadi cagar budaya.

“Ketidakpedulian kita akan menjadikan daerah ini miskin dengan situs cagar budaya karena lambat laun bakal tergerus pembangunan, padahal kita memiliki perda tentang cagar budaya sejak tahun 2019,” imbuhnya.

Timbul pertanyaan, Apakah Perda Tentang cagar Budaya th 2019 itu tersosialisasi ?
Atau mungkin saja dinas terkait tidak pokus perihal kebudayaan, yang pokus bukti nyata garapannya tentang pariwisata sangat compang sekali kenyataan dilapangannya

Kabupaten Garut, lanjutnya, tertinggal jauh dengan kabupaten atau kota lainnya, contohnya yang telah memiliki perda tentang cagar budaya, terlebih perda tentang Pemajuan Kebudayaan yang cantolannya hukumnya jelas dari undang undang no 5 th 2017 tentang Pemajuan kebudayaan satu bukti nyata tidak keberpihakan pemerintah ataupun dinas terkait, dalam hal ini Disparbud sebagai steak holdernya.

Jika demikian, sebaiknya Disparbud ganti saja namanya dengan disparwis (dinas pariwisata) tidak perlu memakai budaya karena selama ada Disparbud kita kabupaten garut tidak merasakan bahwa kita kota yang berbudaya yang jelas banyak kekayaan budayanya.

“Saya sangat sedih sekali komunitas, lembaga paguyuban budaya atau para pergerak budaya hampir semua dipandang sebelah mata. Terbukti dengan tidak adanya program giat dari pemerintah untuk peningkatan komunitasnya, Mungkin hanya yang sudah ada komitmen saja yang menjadikan prioritas ini bisa dibuktikan kebenaranya dan semua bisa liat. Dalam keterlibatan HJG misalnya…yang itu itu saja,” ungkap Hendi.

Kita hanya bisa bermimpi, dikatakan Hendi, “Terlebih untuk mampu mendongkrak PAD dari kekayaan budaya contoh Cagar Budaya karena jika sudah menjadi Cagar Budaya tentunya terpelihara secara maksimal dan akan mengundang wisatawan untuk mengunjunginya ini secara tidak langsung akan memberi efek positif untuk pengembangan ekonomi masyarakat,” katanya.

Hendi juga menyesalkan, kenapa Perda tentang Cagar Budaya minim disosialisasikan Pemkab Garut. “Jadi wajar saja jika kami selaku pecinta dan juga praktisi Budaya sosial masyarakat, berasumsi Pemerintah tidak serius mengenai kemajuan kebudayaan terbalik dengan support terhadap pariwisata yang saya rasa PADnya sangat kecil dibandingkan anggaran yang dikucurkan pemerintah kabupaten ataupun propinsi dan pusat,” ungkapnya.

Hal itu kembali menjadikan timbulnya satu pertanyaan kenapa kecil PAD dari Pariwisata? Jawabnya pariwisata tanpa dasar budaya apa yang akan dijual? Selain pengkondisian pemafaatan segelintir golongan orang, ini yang harus kita bangun yaitu penerapan Nilai Budaya.

“Saya pribadi ataupun melalui lembaga, paguyuban selalu berusaha bergerak untuk mengajak para generasi muda terutama generasi milenial untuk peduli terhadap cagar budaya dengan mensosialisasikan Perda Cagar Budaya, agar masyarakat dapat ikut berperan serta mengusulkan dan memelihara cagar budaya tersebut,” katanya.

Namun Hendi meyakini bahwa, banyak desa di Kabupaten Garut yang memiliki bangunan peninggalan sejarah ataupun heritage dan budaya kearifan lokal yang unik dan patut untuk dipelihara. peninggalan masa belanda yang masih ditempati bahkan yang terbengkalai.

Jika kita pelihara, tentu akan menjadi kekayaan Garut bahkan bisa menjadikan destinasi pariwisata berbasis budaya.

“Inilah karena miskinnya informasi dan pemahaman yang diberikan kepada masyarakat di desa, hal itu terkadang menjadi terabaikan,” tegasnya.

Hendi juga menambahkan, “Jika pemerintah dalam hal ini disparbud cepat tanggap dan ada perhatian khusus untuk pemajuan kebudayaan tidak menutup kemungkinan kita Garut akan mendapatkan kesejahteraan dari nilai budaya. Dan akan sejajar dengan kita budaya lainnya yaitu Jogyakarta hingga bali. Budaya kita kaya mungkin akan lahir cagar budaya tanpa ada lagi kompromi bukan hanya 3, yang pastinya Budaya hasil karya pendahulu akan terselamatkan,” pungkasnya

Editor: Al

IKUTI CHANEL YOUTUBE KAMI JUGA YA!

52 Views